Tribute to Jusuf Kalla
Di tengah ruang publik yang semakin gaduh, polemik dugaan ijazah Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sesungguhnya telah bergerak jauh melampaui persoalan autentisitas dokumen. Yang semula tampak sebagai isu administratif kini berkembang menjadi pertarungan untuk menentukan apa yang layak disebut sebagai persoalan utama dan apa yang sekadar gangguan periferi.
Fenomena itu melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “satelit-satelit isu”: rangkaian polemik turunan yang terus mengelilingi persoalan utama, tetapi justru menjauhkan publik dari substansi pokoknya. Akibatnya, perhatian masyarakat terseret ke dalam konflik identitas, perang sentimen, rumor personal, hingga kegaduhan media sosial yang tidak pernah benar-benar menyentuh inti masalah.
Padahal, pokok persoalannya sesungguhnya sederhana: dapatkah polemik tersebut diselesaikan secara terbuka, transparan, dan meyakinkan publik? Namun, ruang publik Indonesia justru bergerak ke arah sebaliknya. Demokrasi tidak lagi bekerja sebagai arena pencarian kebenaran, melainkan arena perebutan perhatian.
Dalam situasi demikian, yang menentukan bukan lagi siapa yang memiliki argumentasi paling kuat, melainkan siapa yang paling mampu menguasai fokus publik. Substansi dikalahkan sensasi. Fakta tenggelam oleh viralitas. Politik akhirnya berubah menjadi kompetisi untuk mengendalikan emosi massa.

