AMBON, KIBLATMALUKU.COM — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Darussalam (Unidar) Ambon mendorong pengembangan pertanian hortikultura berbasis organik melalui pendampingan Kelompok Tani Telaga Legah di Dusun Telaga Kodok, Negeri Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah.
Program yang mulai dilaksanakan sejak April 2026 tersebut diarahkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura sekaligus mendorong petani memanfaatkan potensi sumber daya lokal sebagai bahan baku pupuk organik.
Pendampingan diawali dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama Kelompok Tani Telaga Legah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi tim PKM dan para petani untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi dalam pengembangan usaha pertanian, sekaligus mencari solusi yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan potensi wilayah setempat.
Salah satu fokus yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah pemanfaatan limbah pengolahan ikan dan limbah kayu gergajian sebagai bahan baku pupuk organik untuk mendukung budidaya tanaman hortikultura.
Potensi kedua jenis limbah tersebut dinilai cukup besar. Limbah pengolahan ikan, khususnya yang berasal dari aktivitas pengolahan ikan di pusat pemasaran ikan Kota Ambon, selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian masih terbuang sebagai limbah.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan PKM, jumlah pengrajin pengolah ikan di kawasan pasar ikan Kota Ambon mencapai lebih dari 100 orang. Setiap pengrajin diperkirakan dapat menghasilkan limbah sekitar 70 hingga 100 liter per hari. Dengan jumlah tersebut, potensi limbah ikan yang dihasilkan secara keseluruhan diperkirakan mencapai sekitar 10 ton per hari.
Limbah ikan memiliki kandungan unsur hara yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Iswan dan Hidayat (2004) menyebutkan adanya kandungan unsur nitrogen, fosfor, dan kalium pada limbah ikan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Selain limbah ikan, potensi bahan baku pupuk organik juga berasal dari limbah industri pengolahan kayu gergajian yang terdapat di kawasan pesisir Utara Pulau Ambon. Limbah kayu gergajian dari sejumlah industri tersebut diperkirakan mencapai 10 hingga 15 meter kubik per minggu.
Tim PKM Unidar Ambon memperkenalkan pengolahan kedua jenis limbah tersebut sebagai salah satu alternatif dalam menyediakan bahan organik untuk kebutuhan pertanian. Pemanfaatan limbah diharapkan tidak hanya mengurangi bahan yang terbuang, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi sektor pertanian dan lingkungan.
Ketua Tim PKM Unidar Ambon, Dr. Marwan Yani Kamsurya, bersama anggota tim Jahra Wasahua, S.Pi., M.Si. dan Juni La Djumat, S.Hut., MP., memberikan pemahaman kepada kelompok tani mengenai fungsi dan manfaat pupuk organik serta teknik pemanfaatan bahan-bahan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar.
Kegiatan tersebut turut didampingi Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unidar Ambon, Dr. Ir. Samin Botanri, MP.
Melalui pendampingan tersebut, petani diperkenalkan pada konsep pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan sumber daya lahan. Penggunaan bahan organik diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi tanah, mendukung aktivitas mikroorganisme, serta mengurangi ketergantungan terhadap input pertanian berbahan kimia secara bertahap.
Kelompok Tani Telaga Legah sendiri merupakan salah satu kelompok tani yang aktif mengembangkan usaha hortikultura di Dusun Telaga Kodok. Sebagian besar anggota kelompok menggantungkan kehidupan ekonomi mereka pada sektor pertanian.
Berbagai komoditas hortikultura dikembangkan oleh petani, antara lain cabai, tomat, bawang merah, jagung, sawi, sakata, terung, pare, mentimun, serta sejumlah tanaman rempah.
Potensi pengembangan hortikultura di kawasan tersebut didukung oleh kondisi iklim tropis, ketersediaan lahan pertanian, serta lokasi yang relatif dekat dengan Kota Ambon sebagai salah satu pasar utama hasil pertanian.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pengembangan pertanian hortikultura yang tidak hanya mampu menghasilkan produk pertanian, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat.
Dalam kegiatan FGD, petani juga diberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman, kebutuhan, serta kendala yang selama ini dihadapi dalam menjalankan usaha pertanian. Pola pendampingan tersebut diharapkan dapat membangun hubungan kemitraan yang lebih kuat antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Tim PKM Unidar Ambon menilai bahwa keberhasilan pengembangan pertanian organik tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga oleh kemampuan petani untuk menerapkannya secara berkelanjutan. Karena itu, pendampingan diarahkan agar kelompok tani mampu mengolah bahan-bahan yang tersedia di sekitar mereka menjadi produk yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan budidaya.
Pemanfaatan limbah ikan dan kayu gergajian menjadi pupuk organik juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, ketersediaan pupuk yang dapat diproduksi dengan memanfaatkan sumber daya lokal berpotensi membantu petani menekan biaya produksi.
Melalui program kemitraan tersebut, Tim PKM Unidar Ambon berharap Kelompok Tani Telaga Legah dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam kegiatan budidaya hortikultura.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi dan FGD, tetapi berlanjut pada praktik pembuatan pupuk organik, penerapannya pada tanaman hortikultura, serta evaluasi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan hortikultura berbasis pertanian organik di Telaga Kodok diharapkan dapat memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani sekaligus mendorong pemanfaatan limbah serta menjaga keberlanjutan sumber daya lingkungan.
Kemitraan antara Tim PKM Unidar Ambon dan Kelompok Tani Telaga Legah menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk menghadirkan pengetahuan dan inovasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat, khususnya dalam mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan di Maluku. (KM-01)
