Muhamad Ramadan Tuhelelu, S.Pi.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan orientasi pekerjaan generasi muda, sektor pertanian Indonesia menghadapi persoalan yang semakin mengkhawatirkan: semakin sedikit anak muda yang tertarik menjadi petani. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pilihan profesi, tetapi ancaman nyata bagi keberlanjutan ketahanan pangan nasional.
Pertanian selama ini menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Indonesia. Sektor ini tidak hanya menyediakan pangan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi jutaan penduduk dan penyerap tenaga kerja terbesar di berbagai daerah. Namun ironisnya, profesi petani masih sering dipandang sebelah mata, bahkan oleh keluarga petani sendiri.
Petani dan Stigma yang Sulit Dihapus
Salah satu penyebab rendahnya minat generasi muda terhadap pertanian adalah stigma sosial yang melekat pada profesi petani. Pekerjaan ini masih sering diasosiasikan dengan pekerjaan yang kotor, berat, dan berpenghasilan rendah. Tidak sedikit orang tua petani yang justru berharap anak-anak mereka bekerja di sektor lain yang dianggap lebih bergengsi dan menjanjikan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh ketidakpastian ekonomi yang masih melekat pada sektor pertanian. Risiko gagal panen akibat perubahan iklim, serangan hama, hingga fluktuasi harga hasil pertanian membuat profesi ini dipandang kurang menjanjikan dibandingkan pekerjaan di sektor industri maupun jasa.
Akibatnya, pertanian sering kali menjadi pilihan kedua bagi generasi muda. Minimnya akses terhadap teknologi modern, peralatan pertanian yang memadai, serta pelatihan yang berkelanjutan semakin memperlemah daya tarik sektor ini.
Ancaman Penuaan Petani Indonesia
Fenomena yang saat ini terjadi adalah meningkatnya usia rata-rata petani Indonesia atau yang dikenal sebagai aging agriculture. Data yang diolah dari berbagai sumber menunjukkan bahwa mayoritas pelaku pertanian berada pada kelompok usia di atas 40 tahun.
Kelompok Generasi X (40–59 tahun) mendominasi dengan persentase 56,8 persen, disusul Baby Boomers (60–73 tahun) sebesar 17,1 persen. Sementara generasi muda yang berada pada rentang usia 19–30 tahun hanya mencapai sekitar 8 persen dari total petani yang ada.
Kondisi ini menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen petani Indonesia berada pada usia yang tidak lagi produktif secara maksimal. Jika tidak ada regenerasi yang terencana, sektor pertanian akan kehilangan tenaga kerja produktif dan mengalami penurunan inovasi dalam pengelolaannya.
Rendahnya Pendidikan Petani Menjadi Tantangan
Tantangan lain yang dihadapi sektor pertanian adalah rendahnya tingkat pendidikan sebagian besar petani. Data tahun 2018 menunjukkan bahwa mayoritas petani hanya berpendidikan sekolah dasar, bahkan jutaan lainnya tidak pernah mengenyam pendidikan formal.
Jumlah petani yang memiliki pendidikan tinggi masih sangat kecil. Kondisi ini berpengaruh terhadap kemampuan adopsi teknologi, pengelolaan usaha tani yang modern, serta kemampuan membaca peluang pasar yang semakin kompetitif.
Padahal, di era digital saat ini, kemampuan mengakses informasi dan menguasai teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Generasi Milenial dan Gen Z Sebagai Harapan Baru
Di balik berbagai tantangan tersebut, generasi milenial dan Gen Z justru menyimpan harapan besar bagi masa depan pertanian Indonesia.
Generasi muda tumbuh bersama perkembangan teknologi digital. Mereka akrab dengan internet, media sosial, perangkat pintar, dan berbagai aplikasi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi usaha pertanian.
Melalui pemanfaatan teknologi seperti Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), sensor otomatis, drone pertanian, hingga sistem pemasaran digital, pertanian dapat bertransformasi menjadi sektor yang lebih modern, produktif, dan menguntungkan.
Kemampuan generasi muda dalam mengakses informasi global juga memungkinkan mereka memahami tren pasar, kebutuhan konsumen, hingga peluang ekspor yang semakin terbuka. Dengan kata lain, mereka bukan hanya calon petani, tetapi juga calon wirausahawan agribisnis yang mampu menciptakan nilai tambah bagi produk pertanian Indonesia.
Strategi Membangun Masa Depan Pertanian
Regenerasi petani tidak dapat dilakukan secara alami tanpa dukungan berbagai pihak. Diperlukan strategi yang terintegrasi untuk menjadikan sektor pertanian lebih menarik bagi generasi muda.
Pertama, reformasi produk dan pemasaran harus dilakukan melalui pengemasan yang lebih modern, pemasaran digital yang lebih luas, serta penerapan teknologi untuk meningkatkan efisiensi produksi.
Kedua, pendidikan kewirausahaan pertanian perlu diperkuat sejak bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Kurikulum harus mampu menanamkan semangat inovasi, bisnis, dan kepemimpinan di bidang pertanian.
Ketiga, pemerintah perlu memperkuat berbagai program regenerasi petani, termasuk melalui gerakan Petani Milenial yang telah digagas oleh Kementerian Pertanian. Dukungan berupa pelatihan, akses permodalan, teknologi, dan pendampingan usaha harus terus diperluas.
Keempat, kolaborasi antara petani senior dan petani muda perlu dibangun secara harmonis. Pengalaman yang dimiliki petani tua dapat dipadukan dengan kemampuan teknologi yang dimiliki generasi muda sehingga tercipta sistem pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Menjaga Masa Depan Ketahanan Pangan Indonesia
Pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai pekerjaan masa lalu. Sebaliknya, pertanian harus ditempatkan sebagai sektor strategis masa depan yang mampu menjawab tantangan pangan dunia.
Regenerasi petani merupakan kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan. Generasi muda harus diberi ruang, kesempatan, dan dukungan untuk menjadi bagian dari transformasi pertanian Indonesia. Dengan pendidikan yang tepat, inovasi teknologi yang berkelanjutan, serta kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, Indonesia memiliki peluang besar untuk mewujudkan kemandirian pangan sekaligus menjadikan pertanian sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Jika regenerasi berhasil dilakukan, maka petani muda Indonesia tidak hanya akan mampu memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, tetapi juga membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan pangan dunia di masa depan.(***)
Oleh: Muhamad Ramadan Tuhelelu, S.Pi.
Mahasiswa Pascasarjana Agribisnis, Universitas Muhammadiyah Malang
